31 December 2009

BAPAK GUS DUR

Salam 2 all.
Innalillah hiwa inna ilai hiroji'un dan Al Fatihah saya ucapkan atas pemergian Pak Gus Dur, mantan Presiden Indonesia ke 4 semalam Rabu 13 Muharram 1431/ 30 Disember 2009.
Pak Gus Dur (atau nama sebenarnya Abdurrahman Wahid) adalag seorang tokoh yang penuh dengan kontroversi, namun sejarah tidak akan melupakan beliau sebagai Presiden Indonesia yang pertama dipilih secara demokrasi selepas kejatuhan Presiden Suharto.

Saya kebetulan pernah punya pengalaman peribadi dengan Pak Gus Dur diperingkat awal gerakan reformasi di Malaysia akhir 1990an. Pak Gus Dur sangat rapat dengan DSAI. Malahan penglibatan mereka dalam usaha memartabatkan gerakan Islam bermula lama dahulu sebelum DSAI menyertai kabinet Malaysia. Oleh itu, kedatangan kami wakil DSAI ke Jakarta tatkala beliau baru memegang jawatan Presiden sangat dialu-alukan. Malah kami dilayan semacam ahli keluarga.

Saya masih teringat persoalan yang ditanya kepada Pak Gus Dur semasa bertemu beliau di Ciganjur (kediaman peribadinya di pinggiran Jakarta), mengapakah orang Melayu Malaysia tidak sama semangat perjuangannya dengan orang Melayu Indonesia. Orang Melayu Indonesia perjuangan mereka sangat kental, sanggup mati mempertahankan bangsanya. Jawapan Pak Gus Dur sangatlah sinis; "masalahnya orang Melayu Malaysia perutnya kenyang dong, Melayu Indonesia perutnya lapar pak!".

Begitulah karektor Pak Gus Dur, walau bergelar Presiden negara umat Islam terbesar didunia, walaupun memimpin Nahdatul Ulama', satu gerakan Islam terbesar di Indonesia dengan jutaan ahli, namun sifat rendah diri, tawadhu' dan senda guraunya tidak berubah.

Apabila ditanya apa perbezaan pemerintahan beliau dengan Presiden lain, Pak Gus Dur selamba menjawab, "zaman Pak Harto Orde Baru, zaman Pak Habibie In Order, zaman saya No Order!". Apabila di asak dengan bantahan kelemahan kepimpinan beliau, dengan sinis Pak Gus Dur menjawab, "kok kalian tidak nampak, Presidennya kan buta, Wapresnya (Timbalan Presiden Megawati) pulak bisu (kurang bercakap)!". Seorang rakan saya di Jakarta yang kaki demo pernah berlawak menyatakan para demonstran di Indonesia tidak takut sama polisi, atau ABRI, tetapi kalau dengan Pak Gus Dur lain cerita!! Kerana apa, kerana kalau kedengaran Pak Gus Dur membawa kereta nak melalui tempat demonstran, pasti semuanya lari berterabur kerana Pak Gus Dur nggak nampak dong, habis nanti dilanggarin kita semua!!

Kami semua agak bernasib baik kerana Pak Gus Dur sempat menziarahi DSAI baru-baru ini dirumah beliau di Bukit Segambut. Sempatlah kami makan bersama dan bergurau dengan Pak Gus Dur. Kebetulan malam itu ramai yang mengambil gambar kami, jadi bagi mereka yang berkenaan kalau ada kesempatan tolong email kepada saya sekeping dua gambar tersebut buat kenang-kenangan kami.

Begitulah gelagat orang yang namanya Gus Dur. Semoga ALLAH meletakkan Almarhum dalam golongan yang soleh dan diberi keampunan, dan semoga Pak Gus Dur termasuk dalam golongan ahlul jannah.

Wassalam.

Zulkifli Bin Noordin
Khamis
14 Muharram 1431
31 Disember 2009

*Bagi sdr/i yang berminat untuk mengenal latarbelakang Pak Gus Dur, sila wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_Wahid
#################################################################
(Petikan daripada wikipedia encyclopaedia)

Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun[1]) adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai pada 20 Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Abdurrahman Wahid adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, namun kalender yang digunakan untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender Islam yang berarti ia lahir pada 4 Sya'ban, sama dengan 7 September 1940.
Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk".[2] Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".[2]
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan[3]. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang
Gus Dur menderita banyak penyakit, bahkan sejak ia mulai menjabat sebagai presiden. Ia menderita gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali ia mengalami serangan strok. Diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya. Ia wafat pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.47 akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin. Menurut Salahuddin Wahid adiknya, Gus Dur wafat akibat sumbatan pada arteri.[65] Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.[66]

0 komentar: